KOLAM BELUT ANTI REPOT

Warga Semarang khususnya anggota Gobbe’s yaitu Gabungan Orang-orang Belut Sekota Semarang, khususny Jama’ah Masjid Baitussalam Kandri Pesona Asri, ada sebagian yang demen Pelihara belut, untuk itu ada baiknya artikel ini saya sertakan.

Agus Hidayat menciptakan kolam belut yang ringkas, knockdown. Bahan bakunya potongan pipa besi air ledeng dan terpal. Itu solusi bagi peternak di perkotaan yang sering terganjal keterbatasan lahan.
Pekarangan rumah Agus di Jalan Buring, kota Malang, Jawa Timur, itu tak seberapa luas, kira-kira lebih kecil sedikit dari kendaraan kijang kapsul. Namun, sejak Februari 2007 dari sepetak tanah berukuran 3 m x 1 m itu ia dapat memetik sekitar 10 kg belut dewasa sepanjang rata-rata 30 cm. Seandainya kelak alumnus Institut Teknologi Nasional Malang itu bosan, ia dapat membereskan kolam itu dalam waktu singkat, kurang dari 12 jam.
Kelebihan itu tidak dimiliki kolam semen dan kolam bambu yang selama ini dipakai. Contoh kolam semen. Jumlah produksi dengan luasan serupa akan sama, tapi kerepotan muncul bila kolam permanen itu dipanen. Jika tak mau membobok kolam, belut ditangkap setelah media diserok secara manual. Itu memakan waktu seharian. ‘Dengan kolam pipa besi, panen cukup dengan membuka ikatan antarpipa sehingga terpal jatuh dan terbuka lebar,’ ujar Agus.
Sederhana
Bahan membuat kolam mudah didapat. Selain pipa besi, Agus hanya memakai besi siku-siku, dan kawat tipis. Pipa berdiameter 1,5-2 cm masing-masing sepanjang 1 m dan 3 m dibuat seperti balok persegi panjang. Setiap ujung pipa dibuat ulir untuk mengikat besi siku-siku saat menyambungkan antarpipa.
Pipa tiang pancang dilebihkan sekitar 10 cm untuk ditanam sebagai pondasi. Agar rangka kolam lebih kuat, di bagian tengah balok diberi tambahan 4 batang besi cor dan pipa besi yang panjangnya mengikuti ukuran setiap sisi kolam. ‘Untuk memperkuat pegangan terpal, dinding rangka diberi ram kawat,’ tutur pehobi tenis itu.
Terakhir terpal dipasang mengikuti bentuk kolam. Supaya bagian atas terpal tidak jatuh, setiap ujungnya diikat kawat. Ikatan itu dipakai juga di beberapa titik sepanjang keliling atas kolam. ‘Pengalaman selama ini terpal tidak pernah ambruk,’ kata Agus. Namun, jika ingin lebih kuat lagi, bagian atas terpal dipatok dengan kawat tebal berukuran di atas 2 mm. ‘Modal pembuatan kolam tidak sampai setengah juta rupiah,’ tambahnya.
Media fermentasi
Agus menuturkan, ia memakai media fermentasi untuk memelihara belut. Media berupa campuran jerami, pelepah pisang, kompos, pupuk kandang, dan lumpur itu, dibuat di luar kolam. Alasannya, proses pematangan media berlangsung lebih cepat. ‘Kalau mematangkan di kolam waktunya bisa lebih dari sebulan. Itu pun belum tentu semuanya menjadi matang,’ katanya
Media dibuat dengan mencacah jerami dan pelepah pisang. Cacahan itu lantas dicampur kompos dan pupuk kandang, lalu disiram konsentrat mengandung mikroorganisme pengurai sebanyak 50 cc/10 l air. Campuran itu dijemur hingga kering, kemudian disungkup terpal sekitar 3 pekan.
Media yang sudah jadi ditaburkan setebal 60 cm, selanjutnya ditutupi lumpur setinggi 15 cm. Tambahkan air pada media hingga mencapai ketinggian 3 cm. Maksudnya agar media selalu basah sesuai habitat asli belut.
Fleksibel
Menurut Ardyant Taufik, peternak di Solo, Jawa Tengah, kolam knockdown itu sangat fleksibel. ‘Selain mudah dirakit, ukurannya dapat menyesuaikan tempat yang dimiliki,’ tuturnya. Artinya bentuk kolam tidak selalu persegi panjang. Lingkaran pun dapat dibuat dengan menyesuaikan bentuk pipa.
Berdasarkan pengalamannya kolam knockdown awet, dapat dipakai bertahun-tahun. ‘Itu yang melandasi saya membuat kolam knockdown. Bandingkan dengan kolam bambu yang akan rapuh setelah beberapa kali panen,’ tambah Agus.
Di balik keunggulan itu, Sumardi, peternak di Banyumas melihat ada kelemahan dari kolam knockdown. ‘Sirkulasi air untuk menambah oksigen terlarut sedikit,’ ungkapnya. Kalau pun dibuat, tidak mungkin melubangi terpal sebagai jalan keluar air. ‘Jika dipaksa dibuat menyebabkan terpal bisa sobek karena mendapat tekanan dari media,’ tambahnya.
‘Meski mahal, kolam semen tetap lebih aplikatif,’ ucap Muharni, peternak di Boyolali. Hal itu didasarkan pada kelebihan-kelebihan kolam semen dibandingkan kolam knockdown. Salah satunya dapat mempertahankan suhu ideal 26-27oC, sehingga belut-belut merasa nyaman meski dipelihara dalam kondisi panas sekalipun. Itu yang sulit didapat pada kolam knockdown. Toh kolam bongkar-pasang ciptaan Agus itu tetap menjadi jawaban atas keinginan peternak yang memiliki lahan sempit. (Hermansyah/Peliput: Kiki Rizkika)

5 Responses

  1. artikelnya sangat bagus, akan lebih bagus lagi kalau fotonya juga diikutsertakan dan kalau boleh saya minta denah gambarnya dong….

    terimakasihnih atas artikelnya, isyaallah barokah.

    • Terima kasih atas kunjungan rekan rekan semua.. sebenarnya itu adalah artikel teman saya yang kebetulan juga jualan bibit belut dan membantu peternak lain sebagai konsultannya.. jika ingin lebih jelas rekan-rekan bisa menghubungi no Hpnya : 0818241024
      Jangan lupa baca juga artikel lain hanya di http://info-bisnis.tk
      Semoga bermanfaat.

  2. assalamu’alaikum…saya kepingin belajar tentang belut,apa mas agus punya bibitnya…dan alamat jelasnya mana…kapan2 tak maen kerumah,makasih infonya

  3. mas apasaja bahan pembuatan kolam belut dan makanan nya bagai mana cara budi daya belut plisssssssss mas :|] O:)
    <(")

  4. thank nian artikelnya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: